Minggu, 27 Februari 2022

11 Pertanyaan SENIOR | Sempur Trip

Minggu, 27 Feb 2022 

Rencana gowes ke Puncak Sempur pada hari Sabtu lalu (19/2) harus batal karena beberapa teman berhalangan. Termasuk saya yang harus menunggu hasil PCR. Direncanakan lagi Sabtu ini (26/2) dan batal lagi. kali ini om Himi, sang Bandar Kerupuk berhalangan dan meminta ditunda esok harinya. Mendadak, Sabtu sore kami ber-4 bersepakat utk gowes ke Puncak Sempur pada hari Minggu, 22 Feb 2022. 

Sebelumnya, sekitar sebulan yang lalu, saya sempat bertanya rute Parang Gombong ke teman saya, om Kacacima. Supaya ada gambaran yg lebih jelas, saya membuat scoring : 1-10, dimana 10 adalah sangat sulit rutenya. om Kacacima memberi score 7 untuk Parang gombong dan menambahkan informasi bhw disekitar Loji, ada rute yang scorenya 20 namanya : Puncak Sempur. Daerah yang Masuk dalam nominasi Anugerah Pesona Indonesia (API) Award 2020 kategori dataran tinggi terpopuler. Dari informasi awal inilah, penasaran kami muncul.

 Foto bersama di Sawah daerah Cariu

Minggu, 27 Feb Sekitar jam 6.30,  Kami ber-4 sudah berkumpul di titik kumpul (TIKUM), depan lampu merah Keranggan. Saya, Om Heri, Om Hilmi (Bandar Kerupuk) dan om Sis. Kami memanggil om Sis dengan panggilan SENIOR, karena memang beliau lebih senior dari kami semua.  Dan kami ber4 adalah Vaper (pengguna Vape). Saat berada di Titik kumpul, terlihat Senior (om SIs) sibuk dengan Pod barunya. Sesekali di hisap. kemudian dilihat jumlah likuidnya. dipencet-pencet tombol yg ada di pod tersebut dan kemudian dihisap lagi.  


Jam 10.48, kami sudah sampai di gerbang Puncak Sempur. Jarak dari gerbang tersebut ke puncak sempur hanya sekitar 3-4 KM, tapi memang benar yang dikatakan om Kacacima, tanjakannya memang tajam. Dibeberapa jalan, kami harus menggowes sepeda dgn Zig-zag atau duduk diujung sadel, agar roda depan tidak terangkat. Kami sempat berisitirahat makan siang dan tepat jam 13.48, kami sampai di Puncak Sempur. 3 KM ditempuh dengan jarak 3 Jam. Kami pun menyegerakan untuk Sholat Dzuhur dan kemudian memesan minum di warung sekitar lokasi.

 Foto bersama di gerbang pintu masuk puncak Sempur 

Sekitar 2 jam kami menikmati udara sejuk sambil bercerita. berbagi pengalaman hidup. Om Hilmi bercerita banyak tentang pengalamannya bekerja di kalimantan. Saking bersemangatnya bercerita, sampai lupa untuk tidur, padahal sudah berkeredong sarung. Sarung yg selalu dibawa setiap gowes. Sarung untuk sholat yang juga menjadi teman penghantar tidur. Sesekali om Heri dan saya pun berbagi cerita. Hanya SENIOR saja yg terus sibuk dengan Pod barunya. Terus saja menghisap Podnya. Terus saja mengutak-atik Podnya hingga kami harus turun sebelum kabut yang turun bertambah tebal.


                Foto : Saya dan Om Sis (Senior)

Selama perjalanan pulang pergi ke Puncak Sempur, hampir disetiap tempat istirahat terlihat SENIOR selalu sibuk dengan POD barunya. Ada saja hal yang ditanyakan ke Om Hilmi tentang POD tersebut. Jumlahnya, Ada sekitar 11 pertanyaaan yang ditanyakan oleh SENIOR ke Om Hilmi sepanjang perjalanan tersebut, dari mulai cara mengisi Likuid yg benar, fitur2 di Pod, Jenis2 liquid yg cocok, besaran watt yg ideal untuk POD tersebut. dari 11 pertanyaan yang diajukan, tidak ada 1 pun pertanyaan tentang gowes.


                                                Foto bersama di Puncak Sempur

Rute ke Puncak Sempur ini memang Pedas, membuat kaki pegal saat menanjak dan membuat tangan pegal mengerem saat turunan. Tapi SENIOR (om SIs) terlalu menikmati POD barunya, terlalu menikmati gurihnya Likuid, sehingga dapat dengan mudahnya melupakan curamnya tanjakan dan turunan di Puncak Sempur itu.

Fed Writer

Sabtu, 12 Februari 2022

BORAC DAN BATOX

Sabtu, 12 Feb 2022

Saya ikut event BORAC. Kategori 100 KM, EG : 800 Mdpl, COT : 12 Jam. Diajak oleh Senior gowes ( Om Imam) utk menemani beliau, yg pada akhirnya beliau tdk bisa join krn harus Isoman.

Event dimulai Sabtu, 12 Feb 2022, jam 05.00 dan berakhir pada jam 17.00. Rute bebas. Start darimana saja, tapi berakhir di Kantor BORAC di Galaxy, Bekasi. sekitar 23 KM dari rumah saya.

Strava sdh saya nyalakan sejak 05.30 dan baru start jam 06.00. Awalnya, Rute yg akan saya ambil adalah KM 0 Sentul, dgn EG : 600 M. Kekurangannya (200 m) rencananya akan saya cari  sambil berjalan.

Saat istirahat di Flyover Cibinong, saya bertemu dgn seorang goweser yg juga peserta BORAC dan menyapa. Kami saling berbicara ttg rute gowes. Kebetulan kategori kami sama. Dia adalah Om Arif. Saya sering mendengar nama Om Arif ini dari Teman goweser saya Om Kacacima dan Capt Teza. 



Akhirnya, saya berubah arah. Mengikuti rute om Arif, Citeureup - Jonggol, dengan beberapa catatan : Pelan2 gowesnya dan tdk ditinggal. Beliau menyanggupinya.

Cara gowes beliau, berbeda dgn yg banyak goweser yg saya kenal. Beliau tidak pernah kencang. Bahkan di jalan yg menurun. Tetapi, kayuhan-kayuhannya stabil. Bahkan sangat stabil. Tidak berubah kecepatannya di jalan rata, turunan, bahkan Tanjakan, sepanjang Citeureup - Jonggol.



Sepanjang rute itu, om Arif selalu mengajak ngobrol. Berbagi cerita. Masalahnya, beliau mengajak ngobrol saya selama ditanjakan, di saat saya sedang konsentrasi menyelesaikan tanjakan2 itu. Beliau ngajak ngobrol dengan santainya. Tanpa beban. Tanpa terlihat terengah-engah sedikitpun. Bahkan sesekali tertawa.

Banyak hal positif yg saya peroleh selama gowes bersama om Arif. Antara lain Tips dalam gowes :

1. Yg tersulit dalam gowes adalah bukan mengalahkan tanjakan curam, tetapi mengalahkan diri sendiri. Aplikasinya, tidak perlu terburu2 agar dapat dibilang cepat. Tidak perlu bernafsu utk mendahului orang didepan kita utk supaya dibilang hebat. 

2. Jadilah diri sendiri. Jangan memaksakan diri utk bisa menjadi spt orang lain. Gowes lah sesuai kemampuan kita. Seasyik Kita.

Alhasil, dgn mengikuti arahan om Arif, kami berhasil melampaui target yg diberikan utk Jarak, Ketinggian dan  waktu yg diberikan.

Sebagai informasi, Om Arif ini adalah salah satu Dedengkot di Komunitas Federal. Panggilan tenarnya adalah Om BATOX

Hampir semua federalist mengenalnya. 6 bulan yg lalu dia gowes Banten Loop bersama Om Kacacima selama 5 hari. Sebelumnya gowes ke Dieng bersama Capt Teja selama 10 hari. Belum lagi beberapa kali ke Baduy, sendiri ataupun bersama2. Terlalu banyak rute2 gowes jauh dan menantang bila harus ditulis. 

Senang bisa bersama Goweser Expert yg rendah hati dan tidak merasa paling kuat / paling jago. Yg tetap Istiqomah menjaga sholat selama Gowes. Yang selalu ngopi di setiap break. Yg selalu ngajak ngobrol ditanjakan, tanpa henti. 



- Fed Writer -

Sabtu, 29 Januari 2022

KERUPUK BUKAN KERUPUK

Sabtu, 29 Jan 2022

Tepatnya 26 hari sejak Om Hilmi full Gowes JKT-MAP, dia me-remed rute tsb. Rute yg memang cukup menguras tenaga itu. Rute yang banyak godaan tawaran angkotnya itu. Rute dimana saat memasuki gunung mas terlihat datar, tapi terasa tidak datar. Rute. Rute yg berjarak PP = 110-120 KM dgn Elevation Gain = 1.100 M.  

Kali ini agak berbeda dgn trip sebelumnya. Ada target, Jam 13.20 berfoto bersama komunitas Maps Track. Ada perencanaan :  Rencana berangkat on time jam 06.00. Diatur tempat dan lama istirahat. 

Ada 4 orang yg berangkat, Saya, om Hilmi, Om Sis dan Iqbal. Om Sis dan Iqbal adalah 2 goweser berbeda generasi, Om Sis adalah Gen X dan Iqbal adalah Gen Y atau Millenial. persamaannya, mereka sama2 tangguh. sama 2 pakai Xtrada pula. 


06.00 Semua sudah berada di TIKUM (Titik Kumpul) dan tanpa ba-bi-bu, langsung start 06.15. Tiba dibogor jam 07.45, lebih cepat 30 menit dari yg diperkirakan. Tajur dilewati dengan lancar. Menjelang Gadog, terpaksa harus stop karena habit-nya. Setelahnya, tanjakan pertama Gadog dilewati dgn mudah tanpa berhenti. Break Sebentar menjelang tanjakan bakmi Golek, lalu lanjut lagi. sampai disini, semua berjalan lancar, bahkan lebih cepat dari perkiraan. Euforia om Hilmi mulai muncul. mulai bernyanyi sepanjang jalan. Judul Lagu yg dinyanyikan : Never Say Goodbye, lagu lawas dari Bonjovi Album : Sliperry when wet. Tapi ya itu, Hanya menyanyikan bagian reff-nya saja. diulang2 meskipun Fals dibagian yang sama. padahal saya berharap dia menyanyikan lagu2 di Album Cross road. Dilain sisi, saya mulai berfikir bhw om Hilmi masih punya cukup banyak cadangan energi sehingga masih bisa bernyanyi dan sesekali berteriak menyemangati.

Memasuki area gunung mas, om Hilmi mulai terlihat mlehoy. Cadensnya mulai tidak teratur. Sesekali dikosongkan pedalnya tatkala bertemu sedikiiit jalan datar. Senyumnya mulai pudar. Tidak ada lagi Bonjovi yg terdengar. Lagu "Never Say Goodbye" itu benar2 Goodbye. Hilang ditelan pohon Teh. 

Perlahan namun pasti. akhirnya tiba juga di MAP sekitar jam 14.00. sedikit lewat dari target waktu MAP, tapi lebih cepat 1 jam dari rencana awal kami. Foto sesi dgn MAP sudah berakhir dan kami tidak peduli. Om Hilmi memasuki warung MAP dengan gagah dan bangganya, tapi tanpa Senyum. masih mengatur nafas. baru 5-10 menit setelahnya, bisa cair. bisa tersenyum. Ekspresi wajahnya kembali Sumringah. Apalagi setelah makan Sop Iga yg panas, Bukan cuma bisa tersenyum, tapi bisa tidur juga berkeredong kain sarung. 

Tidak takut gagal dan Menjadikan Kegagalan sebagai awal dari Keberhasilan sepertinya Moto yg dipegang om Hilmi dalam konteks Trip MAP ini.

Om Hilmi yg sebelumnya dijuluki Bandar Kerupuk krn gagal 2 kali ke MAP, sekarang sudah tidak pantas lagi menyandang gelar Kerupuk. Kerupuk itu sudah diserahkan ke Mang Ade utk dijual ke Goweser lain yg butuh Kerupuk.





- Fed Writer -

Sabtu, 08 Januari 2022

Jalur Nostagia

Saya punya keinginan. Sekitar 4 tahun  yang lalu. Keinginan untuk mengayuh sepeda sendirian. Menyusuri bukit sepanjang Jonggol - Citeureup. Yang berliku-liku itu. Yang jalannya turun naik itu. Melewati sungai, sawah dan pemandangan bukit.

Keinginan itu terinspirasi dari seorang teman. Yang pada saat awal saya memulai bersepeda, dia sudah sangat berpengalaman. Kalo saya beri nilai antara 1-10 dan 10 adalah paling banyak pengalamannya, maka dia akan saya beri nilai 20. Saya memanggilnya Capt. Zhang.

Sekitar 4 tahun yang lalu itu. Saya, Om Kacacima dan Capt. Zhang gowes bersama. Kami gowes ke arah jonggol. Sesampainya di Tugu Jonggol (jarak  25 KM) saya terpaksa harus menerima tawaran Capt. Zhang utk lanjut ke arah sungai di daerah sukamakmur. 10 KM dari Tugu Jonggol. Itu adalah perjalanan pertama terjauh saya, dgn total sekitar 35 KM.


Foto 1. Kali Cipamingkis. Saya dan Om Kacacima.

Disitu kami berpisah. Capt Zhang melanjutkan perjalanan Jonggol - Citeureup, sedangkan saya dan Om Kacacima  putar balik. Capt. Zhang sdh tiba dirumah sekitar jam 16. Sedangkan saya sekitar jam 18-19. Begitu lama, karena saya begitu lelah saat itu. Om Kacacima yg kemampuan gowesnya saat itu sudah jauuuuh lebih baik dari saya saat itu, terpaksa harus menemani saya yg berlama-lama isitirahat. Itu cerita sekitar hampir 4 tahun yg lalu. Dari situlah keinginan saya muncul. Utk mencoba melewati jalur itu. Sendirian.

Pada pagi minggu ini, saya tidak ada agenda gowes. Ada pekerjaan yg urgent yg harus diselesaikan dan urusan lainnya. Jam 8.30 sudah selesai semua dan saya bebas.  Saya putuskan utk gowes ke arah Jonggol, Bersilahturahim. Sekitar jam 8.50 saya berangkat, setelah berpamitan dgn istri. Setibanya dirumah teman saya jam 11 siang. Ternyata temen saya sedang keluar bersama keluarganya. Memang salah saya tidak bertanya kepadanya terlebih dahulu. Ya sudah. Sudah terlanjur. Sudah di halaman rumahnya. Disitu saya langsung memutuskan utk merubah arah. Pulang melalui Citeureup. Jalur yg pernah dilalui Capt. Zhang. Sempat ragu utk melanjutkan krn sudah terlalu siang. Tapi _Show must Go On_. Mumpung sendirian.

Saya pergi ke tempat “Teman Goweser” (Indomaret) utk membeli beberapa keperluan utk persiapan. Air minum dan makanan kecil. Termasuk tarik tunai. Utk jaga-jaga kalo nanti harus nanti harus naik ojek/Kolbak. 

Perjalanan pun dimulai. 

Sekitar jam 12.45, setelah sholat Dzhuhur, saya pun tiba di Sungai Sukamakmur. Tempat kami dulu bertiga berpisah. 


Foto 2. Kali Cipamingkis 

Tidak lama ditempat tersebut, setelah berfoto, saya melanjutkan perjalanan. Sangat terik Saat itu, mungkin karena mau Hujan. Saat memasuki daerah yg agak tinggi. Cuaca mendung. Terlihat hamparan Sawah yg hijau. Semakin menanjak, semakin indah pemandanganya. Semakin segar udaranya. Semakin sepi dan hening jalannya. Semakin habis pula rasanya nafas saya dan semakin lemas pula dengkul saya. 

Saya terus menyusuri jalan itu. Kontur jalan itu turun naik. terus sampai di daerah Citereup. Setelah sholat Ashar di daerah Citerup (sekitar jam 16.30), saya pun melanjutkan perjalanan dan tiba dirumah jam 17.30. Alhamdulillah, Allah telah memberi kemudahan mengabulkan keiginanan saya. Bernostalgia sambil menikmati kebesaran-Nya. 


 


Gowes bersama-sama itu memang indah. Tapi, bukan berarti Sendiri itu tidak indah. Ada ketenangan disana. Ada keheningan. Ada kebebasan. Tapi, ada juga kekhawatirannya, sepanjang 93,75 KM itu.


_This trip was Inspired and motivated by Capt. Zhang and Om Kacacima_

Kamis, 06 Januari 2022

Hijau, Kuning, Merah, kemudian Biru

Tahun baru. Harus ada Seragam Jersey baru yang diorganize pengurus baru. Akan Jersey Kebanggaan dalam tahun 2022. Akan banyak dipakai berfoto dalam event2 gowes selama 2022. Harus berbeda dari yang sebelumnya. Tidak harus lebih murah, karena member sepertinya lebih banyak yang suka bahan dgn kualitas yg bagus dan desain bagus.

Sudah dalam beberapa bulan ini digarap. Kemudian Final. Draft model dikirimkan ke member dan list pemesanan pun disebar. Beberapa Member sudah mulai mengisi pemesanan. 

Pemesanan berlanjut ? Ternyata tidak. Beberapa Member yg berani bersuara, membawa aspirasi dari mereka yang juga tidak setuju dgn model yg diberikan, Tapi melempem suaranya. Hanya bersuara dibelakang. 

Totalnya ada 10 point masukan ttg desainnya, kombinasi warnanya dan layout-nya. Masukan itu lahir dari kepedulian, bukan kebencian.  Masukan itu disampaikan utk kepentingan bersama , bukan kepentingan personal. Masukan itu adalah wujud dari kontribusi ide.

Akhirnya masukan2 itu didengar dan diperhatikan. Kemudian disesuaikan. Sayangnya, harus segera diputuskan. Tidak boleh lama. Bahkan, usulan diskusi pada waktu setelah jam kerja pun, dianggap masih terlalu lama. Saya sendiri merasa tidak optimal dalam mereview dan hanya memberikan review saat sekitar 10 menit. Saat akan masuk ke Lift, setelah kembali dari makan siang.



Saya tidak ingin mengomentari banyak tentang desain Jersey. Saya hanya ingin berbagi cerita tentang sebuah Pelatihan/Training Management yg saya ikuti pada tahun 2010. Nama Training itu adalah : SUKSES MULIA yg selenggarakan oleh Kubik Leadership. nama pengajarnya : Bp. Jamil Azzaini. DImulai dari jam 06.00 - 22.00. 2 hari berturut-turut. Sangat melelahkan. tapi sangat berkesan, hingga sekarang. 

Salah satu yang diajarkan dalam Training itu adalah : Kita justru harus mengucapkan terima kasih kepada orang yang telah memberi masukan kepada kita atau bahkan memberi Kritik kepada kita, tentang kelemahan kita, Tentang kekurangan kita atau hal-hal tidak baik lainnya. Dengan diberikannya masukan, kritikan atau feedback spt itu, kita mendapat kesempatan untuk menjadi lebih baik. Semakin sering kita terima feedback, idealnya semakin sering kita berkesempatan melakukan perbaikan. 

Selesai Training tersebut, saya mempraktekan hal tersebut. Beberapa rekan saya dikantor, saya minta utk menuliskan secara tertutup, tentang kekurangan yg ada pada diri saya. apapun itu. Yang mereka tau. Yang mereka lihat. Yang mereka Rasakan. Ternyata memang benar. Banyak hal yg diluar dugaan saya. Saya sangat senang. 2 tahun kemudian saya ulangi dengan rekan2 kantor yg berbeda.



Dalam berbagai kondisi, memang tidak sedikit yg blm dapat bijak menyikapi setiap feedback. Ego mengalahkannya. bahkan kalah telak. Ada rasa tidak ingin direndahkan. Ada Pride yg merasa harus dipertahankan.   

Dalam konteks Organisasi Sosial, Idealnya memang harus banyak menerima masukan yg konstruktif. Bahkan harus meng-encourage member didalamnya utk bisa lebih kritis. Lebih Berani. Agar organisasinya terus tumbuh. Karena itu milik bersama. Dibangun bersama dari pemikiran bersama. Tidak boleh ada Ego pribadi tinggal disana. Tidak boleh ada pemaksaan kehendak disana. Hanya saja, memang kita tidak bisa berharap banyak karena organisasi solial biasanya sangatlah Heterogen. 

Terlalu banyak Quote tentang kritik, tapi saya tertarik dengan dua Quote bijak dibawah :

1. "Hargailah yang konstruktif; abaikan yang merusak" - John Douglas

2. "Jika seseorang mengkritik Anda, beri dia pujian." - Debasish Mridha      

Apakah anda terkritik dgn tulisan ini ? ataukah justru anda ingin memberi masukan yg konstruktif atau mengkritik tulisan ini ? Tentu, saya dengan senang hati menerimanya.

Salam Kerupuk,

Newbie Writer

Minggu, 02 Januari 2022

Dendam Bandar Kerupuk [MAP Trip]

Ternyata, dendam itu begitu dalam. Sindiran yg dikemas dalam Canda oleh teman2 sekomunitas tentang naik ojek pada agenda Gowes SEJATI Chapt.TMII ke MAP (Mang Ade Puncak) beberapa bln  lalu, semakin membuat Bandar Kerupuk SEJATI  (Om Hilmi) membulatkan tekadnya  utk kembali menjajal kembali Track MAP yg memang sangat menguras tenaga. 

Dalam group chat di komunitas sepeda kami (SEJATI - Chap. TMII) , Om Hilmi disebut sebagai Bandar Kerupuk, karena dia kerap komen menggunakan kata "Kerupuk" kepada setiap orang. 

Seluruh persiapan dilakukan dengan matang oleh Bandar Kerupuk ini. Dari mulai meminang Minivelo (MV) dgn stang Dropbar hingga melakukan major upgrade. Tidak puas dgn Brifter, RD dan Sprocket Tiagra, Cranknya pun langsung diganti dgn Tiagra 4700 double chainring dgn BB dan pulley keramik. Schwalbe One pun, turut dibenamkan pada wheelsetnya. Kabel Jagwire pun, akhirnya mengganti kabel Inner dan Outer bawaan pabriknya, agar shifting semakin smooth.

Tidak  berhenti sampai disitu, brakesetmya pun, juga diganti dengan Rem Hybrid TRP yg harganya cukup ciamik, agar dapat menuruni jalur MAP tanpa ragu. Luar Biasa ... !! 

Komdisi fisik pun, sudah dengan sangat matang dipersiapkan. Gowes 2 kali ke Warung desi Jonggol (60 KM PP) dan ke Kopi Tubing (130 KM PP) dalam minggu itu dilakoni utk dpt lebih cepat beradaptasi dgn MV barunyanya.

Foto 1: Minivelo Pacific Clash milik Om Hilmi yg sudah selesai Upgrade.

Saatnya yg dinanti pun Tiba. 

Jam 5.50, saya terima WA dari bandar kerupuk yg mengabarkan bhw dia baru OTW dari rumahnya.  Sudah kepalang kesiangan, akhirnya saya ajak dia utk minum Jahe susu dan menikmati sepotong kue Tart ultah anak saya sebelum berangkat. Sekitar jam 07.10, kami pun berangkat. Telat 1,5  jam dari rencana awal. Hanya berdua saja. Saya dan Om Hilmi (Bandar Kerupuk).

Perjalanan sampai ke Bogor, berjalan sesuai rencana.  2 jam. Bandar kerupuk masih konsisten menggunakan Crank besarnya (52T). Bahkan hingga Gadog, masih konsisten. dari sisi waktu, semuanya masih sesuai rencana. 


Foto2: Tugu Kujang 

Memasuki tanjakan pertama di Gadog yg cukup tajam, MV mulai shifting ke Crank yg kecil. Dan Tidak pernah diganti lagi ke Crank besar. Sepertinya Bandar Kerupuk ingin mengikuti jejak Sultan Malaka 2 (Om Arles) yg gemilang melahap jalur MAP pada event Gobar Komunitas SEJATI TMII yang baru selesai digelar minggu lalu.

Tapi, cuaca hari itu sangat jauh berbeda dgn minggu lalu saat saya ke MAP. Sangat terik. Kondisi traffic pun sangat jauh berbeda. Sangat macet, Bahkan 1 KM menjelang Cimori (River View).  Menjelang pasar Cisarua, kami Harus melewati Trotoar, krn jalan sdh tidak bergerak. Beberapa kali kami terpaksa harus berhenti sejenak utk “ngadem” di beberapa Rest Point yg telah dilengkapi AC (Indo/Alfa) krn merasa tidak tahan dgn cuaca panas saat itu ditambah dengan uap panas yg keluar dari mesin kendaran bermotor yg macet.

Salah satu yang saya sukai saat gowes bersama Bandar kerupuk ini, dia selalu mengingatkan setiap akan/telah  masuk waktu Sholat. Akhirnya kami pun brake sholat pada 11.30 - 13.30. Cukup lama istirahat kami krn rupanya hanya ada 1 org pelayan restoran yg Melayani. Sedangkan banyak mobil yg akhirnya makan ditempat tsb krn macet yg parah.


Foto 3: Break om Hilmi

Terlalu lama istirahat. Rasa malas mulai menyerang. Tapi kami tetap lanjut, hingga sampai digunung mas  sekitar jam 16.00 dan bandar mengingatkan kembali utk sholat Ashar. Jam 16.45, kami lanjutkan perjalanan hingga 1 KM menjelang AT-Tawun, perut saya  terasa sgt  Lapar. 

Tulisan "Sate dan Sop Kambing" yang berada seberang jalan, begitu menggugah selera. Kami putuskan utk makan. Entah waktu penyajian yg cukup lama ataukah kami sudah sangat lapar. 17.45 akhirnya kami baru selesai makan. 


Foto 4: Foto sebelum makan sore 

Menimbang saat itu telah jelang waktu Maghrib dan MAP masih sekitar 1.5-2 Jam lagi, serta memperhitungkan waktu tiba dirumah dan PR kantor yg harus dikerjakan malam itu juga, akhirnya kami putuskan : Kembali ke JKT dan menunda ke Mang Ade. Kami pun putar balik ke arah Jakarta jam 17.45. Sekitar jam 23.00, kami pun tiba dirumah. Alhamdulillah.

Anyway, senang sdh berkesempatan menemani dan saling menyemangati. Krn gowes bukan tentang seberapa jauh KM, seberapa tinggi Elevasi atau Avearage speed yg kita tempuh.

Bagi saya Gowes itu adalah momen menikmati kebersamaan dgn teman. Tidak perlu memaksakan kehendak, apalagi kemampuan, hanya utk sebuah pengakuan.

Sambil menulis, saya berfikir : Akankah Om Hilmi kembali membuat perhitungan dengan Jalur MAP bersama Minivelo atau RB Twitter-nya ? 

Salam Kerupuk... !!

Minggu, 26 Desember 2021

2 Xtrada Baru Untuk Mang Ade [MAP Trip - SEJATI]

"Om, ditunggu segera ditikum ya, kita (tan Ade dan Tan Shinta) sedang OTW ke sana". Begitulah isi telfon dari Tan (sebutan singkat utk tante) Ade yang membangunkan saya pada jam 4.30 pagi. Saya pun berbegas melaksanakan sholat Shubuh yg sudah masuk waktunya dan bersiap2 untuk ke titik kumpul (Tikum) di Gadog, CIawi, Puncak. 

Hari ini adalah event Gowes kedua dari Komunitas SEJATI untuk trip Gadog-Puncak. Seluruh sepeda loading dari JKT dan unloading di daerah Gadog. Event kali ini sedikit berbeda dengan event Gowes GADOG-PUNCAK sebelumnya, dimana ada 4 ladies goweser : Tan Ade dan Tan Shinta yg merupakan personel de Crank yg belum lama bergabung dgn Komunitas SEJATI, Tan Chacha dan Tan Ani. Sedangkan 4 lainnya adalah Goweser Laki-laki SEJATI. 

Hal lain yang membuat event ini berbeda  adalah pendiri Komunitas Sejati, Om Agus Giant juga ikut serta dalam acara ini. Pembeda lainnya event ini dengan event sebelumnya adalah ada 8 orang lainnya yang melakukan full gowes dari Jakarta ke Puncak (Warung Mang Ade). Bagi para senior goweser yang jam terbangnya sudah tinggi, gowes PP Jakarta-Puncak adalah hal biasa, tetapi bagi member di Komunitas SEJATI, hal ini adalah baru.

Sejak awal diumumkannhya event ini, beberapa Ladies goweser sempat merasa ragu dan pesimis atas kemampuan mereka melewati jalur menanjak tajam sepanjang kurang lebih 30 KM dgn ketinggian 1500 Mdpl. Tan Ade bahkan, harus membeli ban baru yg khusus untuk jalan aspal, agar terasa ringan saat melewati tanjakan. 2 minggu sebelum acara ini, Tan Ani membeli sepeda Polygon Xtrada 6 untuk dapat sukses melewati rute yg memang cukup menyita energi ini. Persiapan fisik dan pemanasan sudah dengan optimal dilakukan.

Jam 06.30, semua peserta sudah kumpul di Tikum. Semua sepeda pun sudah siap utk digowes, setelah dilakuan beberapa pemeriksaan kecil. Setelah selesai sarapan, sekitar jam 07.00, Ladies goweser langsung meluncur memjulai trip ini. Berselang 15 menit, goweser lanang menyusul. Tentu setelah selesai berdoa.  

Pada acara ini, saya dan om Dado bertugas sebagi Sweeper, Goweser penyapu. Harus berada pada posisi paling belakang. Menemani siapapun yg berada paling belakang.  memastikan tidak ada peserta yg tertinggal.

Gambar 1. Tim Sweeper (Saya dan Om Dado)

Sekitar setengah perjalanan, tepatnya pada tanjakan Grandhill yang memang salah satu tanjakan yg cukup tajam, terlihat 3 ladies goweser (Tan Chacha, Tan Ani dan Tan Ade) sedang beristirahat. Sementara yang lain sudah jauh mendahului. Terlebih Tan Shinta dan Om Arles sudah saling susul menyusul. Saat kami berisitirahat, sebuah Angkot setia menunggu dari awal. Seolah berharap ladies goweser menyerah dan loading ke Angkot.. (mudah2an dugaan saya salah).


Gambar 2. Tante Ani dgn Xtrada barunya

2,5 Jam perjalanan, Om Arles dan Tan Shinta mengabarkan sudah sampai di Mang Ade. Sedangkan Tan Shinta dengan ban barunya dan Tan Ani dgn sepeda barunya, masih terus berjuang melewati tanjakan demi Tanjakan.


Gambar 3. Tan Ade, Tan Ani dan Om Dado

Akhirnya berhasil. Sekitar 5 jam perjalanan, rombongan terakhir tiba di Mang Ade. 2 Jam kemudian om Sis yang Full gowes dari Jakarta tiba dgn sepeda barunya : Xtrada 5, yang baru dibelinya 2 hari sebelum acara. 2 Jam di warung Mang Ade, akhirnya kami kembali ke Tikum utk kemudian kembali ke Jakarta.


Gambar 4. Foto Bersama di MAP

Ini bukan cerita tentang 2 sepeda baru. bukan juga tentang COT (cut of time) atau kehebatan gowes dijalur yang menanjak. ini tentang semangat kebersamaan yang dapat membangkitkan optimisme dan mempererat pertemanan.