Sabtu, 29 Januari 2022

KERUPUK BUKAN KERUPUK

Sabtu, 29 Jan 2022

Tepatnya 26 hari sejak Om Hilmi full Gowes JKT-MAP, dia me-remed rute tsb. Rute yg memang cukup menguras tenaga itu. Rute yang banyak godaan tawaran angkotnya itu. Rute dimana saat memasuki gunung mas terlihat datar, tapi terasa tidak datar. Rute. Rute yg berjarak PP = 110-120 KM dgn Elevation Gain = 1.100 M.  

Kali ini agak berbeda dgn trip sebelumnya. Ada target, Jam 13.20 berfoto bersama komunitas Maps Track. Ada perencanaan :  Rencana berangkat on time jam 06.00. Diatur tempat dan lama istirahat. 

Ada 4 orang yg berangkat, Saya, om Hilmi, Om Sis dan Iqbal. Om Sis dan Iqbal adalah 2 goweser berbeda generasi, Om Sis adalah Gen X dan Iqbal adalah Gen Y atau Millenial. persamaannya, mereka sama2 tangguh. sama 2 pakai Xtrada pula. 


06.00 Semua sudah berada di TIKUM (Titik Kumpul) dan tanpa ba-bi-bu, langsung start 06.15. Tiba dibogor jam 07.45, lebih cepat 30 menit dari yg diperkirakan. Tajur dilewati dengan lancar. Menjelang Gadog, terpaksa harus stop karena habit-nya. Setelahnya, tanjakan pertama Gadog dilewati dgn mudah tanpa berhenti. Break Sebentar menjelang tanjakan bakmi Golek, lalu lanjut lagi. sampai disini, semua berjalan lancar, bahkan lebih cepat dari perkiraan. Euforia om Hilmi mulai muncul. mulai bernyanyi sepanjang jalan. Judul Lagu yg dinyanyikan : Never Say Goodbye, lagu lawas dari Bonjovi Album : Sliperry when wet. Tapi ya itu, Hanya menyanyikan bagian reff-nya saja. diulang2 meskipun Fals dibagian yang sama. padahal saya berharap dia menyanyikan lagu2 di Album Cross road. Dilain sisi, saya mulai berfikir bhw om Hilmi masih punya cukup banyak cadangan energi sehingga masih bisa bernyanyi dan sesekali berteriak menyemangati.

Memasuki area gunung mas, om Hilmi mulai terlihat mlehoy. Cadensnya mulai tidak teratur. Sesekali dikosongkan pedalnya tatkala bertemu sedikiiit jalan datar. Senyumnya mulai pudar. Tidak ada lagi Bonjovi yg terdengar. Lagu "Never Say Goodbye" itu benar2 Goodbye. Hilang ditelan pohon Teh. 

Perlahan namun pasti. akhirnya tiba juga di MAP sekitar jam 14.00. sedikit lewat dari target waktu MAP, tapi lebih cepat 1 jam dari rencana awal kami. Foto sesi dgn MAP sudah berakhir dan kami tidak peduli. Om Hilmi memasuki warung MAP dengan gagah dan bangganya, tapi tanpa Senyum. masih mengatur nafas. baru 5-10 menit setelahnya, bisa cair. bisa tersenyum. Ekspresi wajahnya kembali Sumringah. Apalagi setelah makan Sop Iga yg panas, Bukan cuma bisa tersenyum, tapi bisa tidur juga berkeredong kain sarung. 

Tidak takut gagal dan Menjadikan Kegagalan sebagai awal dari Keberhasilan sepertinya Moto yg dipegang om Hilmi dalam konteks Trip MAP ini.

Om Hilmi yg sebelumnya dijuluki Bandar Kerupuk krn gagal 2 kali ke MAP, sekarang sudah tidak pantas lagi menyandang gelar Kerupuk. Kerupuk itu sudah diserahkan ke Mang Ade utk dijual ke Goweser lain yg butuh Kerupuk.





- Fed Writer -

Tidak ada komentar:

Posting Komentar