Sabtu, 08 Januari 2022

Jalur Nostagia

Saya punya keinginan. Sekitar 4 tahun  yang lalu. Keinginan untuk mengayuh sepeda sendirian. Menyusuri bukit sepanjang Jonggol - Citeureup. Yang berliku-liku itu. Yang jalannya turun naik itu. Melewati sungai, sawah dan pemandangan bukit.

Keinginan itu terinspirasi dari seorang teman. Yang pada saat awal saya memulai bersepeda, dia sudah sangat berpengalaman. Kalo saya beri nilai antara 1-10 dan 10 adalah paling banyak pengalamannya, maka dia akan saya beri nilai 20. Saya memanggilnya Capt. Zhang.

Sekitar 4 tahun yang lalu itu. Saya, Om Kacacima dan Capt. Zhang gowes bersama. Kami gowes ke arah jonggol. Sesampainya di Tugu Jonggol (jarak  25 KM) saya terpaksa harus menerima tawaran Capt. Zhang utk lanjut ke arah sungai di daerah sukamakmur. 10 KM dari Tugu Jonggol. Itu adalah perjalanan pertama terjauh saya, dgn total sekitar 35 KM.


Foto 1. Kali Cipamingkis. Saya dan Om Kacacima.

Disitu kami berpisah. Capt Zhang melanjutkan perjalanan Jonggol - Citeureup, sedangkan saya dan Om Kacacima  putar balik. Capt. Zhang sdh tiba dirumah sekitar jam 16. Sedangkan saya sekitar jam 18-19. Begitu lama, karena saya begitu lelah saat itu. Om Kacacima yg kemampuan gowesnya saat itu sudah jauuuuh lebih baik dari saya saat itu, terpaksa harus menemani saya yg berlama-lama isitirahat. Itu cerita sekitar hampir 4 tahun yg lalu. Dari situlah keinginan saya muncul. Utk mencoba melewati jalur itu. Sendirian.

Pada pagi minggu ini, saya tidak ada agenda gowes. Ada pekerjaan yg urgent yg harus diselesaikan dan urusan lainnya. Jam 8.30 sudah selesai semua dan saya bebas.  Saya putuskan utk gowes ke arah Jonggol, Bersilahturahim. Sekitar jam 8.50 saya berangkat, setelah berpamitan dgn istri. Setibanya dirumah teman saya jam 11 siang. Ternyata temen saya sedang keluar bersama keluarganya. Memang salah saya tidak bertanya kepadanya terlebih dahulu. Ya sudah. Sudah terlanjur. Sudah di halaman rumahnya. Disitu saya langsung memutuskan utk merubah arah. Pulang melalui Citeureup. Jalur yg pernah dilalui Capt. Zhang. Sempat ragu utk melanjutkan krn sudah terlalu siang. Tapi _Show must Go On_. Mumpung sendirian.

Saya pergi ke tempat “Teman Goweser” (Indomaret) utk membeli beberapa keperluan utk persiapan. Air minum dan makanan kecil. Termasuk tarik tunai. Utk jaga-jaga kalo nanti harus nanti harus naik ojek/Kolbak. 

Perjalanan pun dimulai. 

Sekitar jam 12.45, setelah sholat Dzhuhur, saya pun tiba di Sungai Sukamakmur. Tempat kami dulu bertiga berpisah. 


Foto 2. Kali Cipamingkis 

Tidak lama ditempat tersebut, setelah berfoto, saya melanjutkan perjalanan. Sangat terik Saat itu, mungkin karena mau Hujan. Saat memasuki daerah yg agak tinggi. Cuaca mendung. Terlihat hamparan Sawah yg hijau. Semakin menanjak, semakin indah pemandanganya. Semakin segar udaranya. Semakin sepi dan hening jalannya. Semakin habis pula rasanya nafas saya dan semakin lemas pula dengkul saya. 

Saya terus menyusuri jalan itu. Kontur jalan itu turun naik. terus sampai di daerah Citereup. Setelah sholat Ashar di daerah Citerup (sekitar jam 16.30), saya pun melanjutkan perjalanan dan tiba dirumah jam 17.30. Alhamdulillah, Allah telah memberi kemudahan mengabulkan keiginanan saya. Bernostalgia sambil menikmati kebesaran-Nya. 


 


Gowes bersama-sama itu memang indah. Tapi, bukan berarti Sendiri itu tidak indah. Ada ketenangan disana. Ada keheningan. Ada kebebasan. Tapi, ada juga kekhawatirannya, sepanjang 93,75 KM itu.


_This trip was Inspired and motivated by Capt. Zhang and Om Kacacima_

Tidak ada komentar:

Posting Komentar